e premte, 22 qershor 2007

RANUPANIKU SAYANG, RANUPANIKU MALANG

Telaga yang membentang dengan selingan bunga teratai diatasnya, hawa dingin yang menusuk-nusuk meskipun di siang hari, canda gurau anak kecil di sekitar lapangan menyambut wisatawan ketika datang di telaga Ranu pani. Ditambah lagi dengan banyaknya sayur-sayuran yang ditanam peduduk disekeliling rumah maupun diladang menambah semakin indah pemandangan yang ada di Ranupani. Indah dan nyaman, itulah kebanyakan kesan pertama ketika para wisatawan menginjakkan kaki pertama kali di Ranupani. Cantiknya Ranupani semakin lengkap dengan latar belakang gunung Mahameru atau sering disebut juga dengan gunung Semeru, yang merupakan gunung yang tertinggi di wilayah Jawa dan masih aktif. Karena hal tersebutlah maka disana sering digunakan oleh para pendaki untuk menaklukkan puncak Mahameru dengan mengambil start di Ranupani.
Bahkan kita masih ingat bahwa telaga Ranupani pernah juga digunakan sebagai gambar mata uang pecahan seratus rupiah, ini membuktikan bahwa telaga tersebut memang pantas dijadikan sebagai objek wisata pilihan bagi wisatawan. Tetapi yang patut disayangkan kemudian ketika kita mencoba menyusuri pinggiran telaga Ranupani, kesan yang seolah-olah telaga tersebut terlantar benar-benar ada. Sampah-sampah, baik yang organik maupun unorganik terserak dimana-mana. Rumput-rumput liar tumbuh dimana-mana, bangunan yang tidak terawat semakin memudarkan bayangan kami sebelumnya yang menganggap bahwa Ranupani adalah obyek wisata andalan. Pemerintah daerah terlihat kurang peduli terhadap perkembangan telaga Ranupani, padahal jika pemerintah daerah berkeinginan untuk mempercantik kawasan tersebut bukan tidak mungkin disana akan menjadi jujugan para wisatawanm, baik luar maupun dalam negeri, setelah gunung Bromo. Pundi-pundi devisa dapat dihasilkan dari sana, dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah ketika di Ranupani banyak dikunjungi oleh wisatawan maka masyarakat sekitarnya akan juga terbantu dengan kenaikan tingkat ekonominya. Mungkin dengan menjual jasa ataupun barang yang menjadi kebutuhan bagi para wisatawan.
Karena, harus secara jujur juga kita melihat, bahwa ternyata ketika kita pertama kali masuk wilayah Ranupani, kita akan disambut dengan suka cita rumah-rumah penduduk yang berjejer dan sangat miris keadaannya, dan sangat jauh dari syarat rumah sehat. Akan terasa sulit kita membedakan apakah itu "rumah" atau "gudang" untuk menyimpan panen sayuran mereka. Sekali lagi, keadaan ini sangat kontras dengan keadaan alamnya yang sangat subur, ibarat orang jawa bilang gemah ripah loh jinawi, subur tentrem kerto raharjo. Apa yang terjadi dengan mereka, apakah mereka tereksploitasi ataukah karena memang sosio-kultural mereka yang tidak mampu menjawab tantangan? Apa yang terjadi dengan telaga Ranupani yang seolah-olah belum tersentuh kebijakan pemerintah? Permasalahan inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita sebagai anak bangsa yang mempunyai kewajiban yang tidak bisa dibilang kecil.
***
Nasib para petani yang ada di sekitar Ranupani-pun terlihat sama saja dengan nasib kebanyakan para petani yang ada di daerah lain. Mereka adalah kelas-kelas yang termarginalisasi oleh sistem yang ada, posisi tawar yang rendah terhadap para tuan juga masalah yang terus menerus mereka hadapi. Sehingga mereka sangat dipermainkan oleh para pemilik modal, dalam hal ini adalah para tengkulak dan para tuan tanah serta para investor. Harga-harga akan panen sangat haram hukumnya untuk ditentukan oleh para petani, dan yang lebih parah mereka hanya bisa diam tanpa banyak kata ketika menghadapi kuasa kapital (pemilik modal). Hal ini bisa terjadi pada masyarakat ranupani dikarenakan salah satunya adalah adanya sistem kontrak yang telah disepakati antara para petani dengan para pemilik modal. Petani hanya sebatas penggarap saja, meskipun ada yang memang sebagian merupakan hak milik pribadi (menurut petani yang sempat kami wawancarai), tapi itu tidak seberapa jumlahnya.
Secara kasat mata dampak yang paling bisa kita lihat dari adanya sistim kontrak tersebut adalah lemahnya tingkat ekonomi para petani di Ranupani. Rumah-rumah yang reot pun akibat dari rendahnya tingkat pendapatan yang mereka peroleh selama mengerjakan lahannya. Anak-anak kecil yang sewaktu jam sekolah malah membawa sabit untuk mencarikan rumput untuk kambingnya, seharusnya mereka masih belum waktunya untuk melakukan hal itu. Mereka seharusnya masih duduk di bangku sekolah untuk membuka cakrawala mereka akan dunia luar. Stereotipe yang mengatakan bahwa masyarakat Ranupani adalah masyarakat yang terbelakang akan terpatahkan dengan sendirinya ketika mereka mampu untuk meningkatkan sumber daya manusia yang selama ini masih agak tertinggal dengan masyarakat yang tinggal dio bawah mereka.
Selain kendala tentang permasalahan ekonomi tersebut mereka juga mengalami kendala tentang lembaga pendidikan yang ada di sana, hanya tingkat sekolah dasarlah yang ada di daerah tersebut. Sedangkan untuk menempuh jenjang yang lebih lanjut, secara otomatis mereka harus turun gunung, karena lembaga pendidikan pasca SD belum tersedia di sana. Banyak permasalahan yang mereka ungkapkan ketika mereka tidak bersedia untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, yang pertama adalah faktor ekonomi dikarenakan tingkat ekonomi yang rendah, sehingga banyak diantara anak-anak seusia pasca SD terpaksa harus membantu orang tua mereka di ladang, karena itulah sumber penghidupan mereka. Kedua, adalah masalah transportasi yang sangat sulit, dan tidak mungkin mereka akan pulang pergi setiap hari hanya untuk keperluan sekolah saja, karena tranpostasi disana mahal.
***
Tapi ditengah permasalahan yang melilit warga Ranupani, banyak juga terdapat kearifan-kearifan lokal yang sangat sulit kita ketemukan ketika kita menginjakkan kaki di kota. Yang patut kita acungi jempol adalah kuatnya mereka memegang teguh budaya mereka sendiri, meskipun tidak dapat dijamin seratus persen bahwa kearifan lokal yang ada disana masih murni seperti yang dulu. Adanya globalisasi sedikti banyak telah merubah paradigma, baik itu perorangan maupun kolektiv, terhadap pemaknaan akan suatu permasalahan.
Rasa kepedulian terhadap sesama, rasa gotong royong dan toleransi masih sangat melekat dalam setiap sanubari masyarakat Ranupani. Nilai-nilai seperti inilah yang sebenarnya perlu ditiru oleh orang-orang perkotaan yang semakin cenderung mengarah kepada sifat individualisme. Pengejaran terhadap materi yang seperti dilakukan oleh masyarakat kota sebenarnya malah menjadikan mereka teralienasi dari lingkungannya saja dan menjadikan diri mereka sendiri semakin tergantung terhadap tekhnologi yang ada. Kasus semacam ini (ketergantungan terhadap tekhnologi) sangat minimal sekali terjadi di daerah pedesaan, seperti di Ranupani.
Hidup dalam pluralitas dan harmonis dalam berhubungan telah menjadi sebuah budaya bagi masyarakat Ranupani. Berbagai macam agama yang ada di Ranupani, mulai dari Hindu, Islam dan lain-lainnya, tidak pernah mengalami cek-cok seperti yang sering kita jumpai dalam teater kekerasan yang sering dipertontonkan di kota. Masyarakat kota, yang katanya mengagung-agungkan pluralitas ternyata malah sering mempertontonkan adegan-adegan klaim kebenaran, yang sering berujung pada tindak kekerasan, akan sebuah wacana yang diusungnya.

0 komentar: